Magelang – Selama Nataru, Pengunjung Wisata di Wonosobo Diprediksi Naik 10 Persen. Menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), sektor pariwisata Wonosobo kembali bersiap menghadapi lonjakan wisatawan yang diprediksi meningkat signifikan.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Wonosobo menyebut peningkatan kunjungan pada momentum akhir tahun hampir terjadi setiap tahun, bahkan kerap mencapai lebih dari 20 persen dibanding hari-hari biasa. Kabid Pemasaran Disparbud Wonosobo Fatonah Ismangil mengatakan bahwa meski kondisi cuaca tidak bersahabat, optimisme tetap tinggi. “Tahun ini kami prediksi kenaikan kunjungan pada periode Nataru berada di kisaran 5–10 persen. Kalau melihat pola tahun lalu, sebenarnya bisa lebih dari itu,” ujarnya, Selasa (11/12/2025).
Menurutnya, hujan intens yang memicu longsor di beberapa titik rawan memang menjadi faktor pembatas. Namun secara umum, wisatawan tetap menjadikan Wonosobo dan kawasan Dieng sebagai tujuan utama libur akhir tahun. “Tingkat hunian hotel biasanya naik tajam. Destinasi seperti Sikunir, Telaga Menjer, dan Agrowisata Tambi selalu dipadati pengunjung. Meski cuaca sering hujan, daya tarik wisatanya tidak berkurang,” jelasnya. Untuk memastikan pelayanan tetap maksimal, Disparbud bekerja sama dengan sejumlah kelompok masyarakat menggelar berbagai atraksi wisata. Salah satu pusat kegiatan berada di kawasan Bukit Telaga Menjer.
Baca Juga : Anggota PDGI Jateng Diminta Menyebar Sampai ke Desa

“Mulai 25 Desember sampai 4 Januari akan digelar pertunjukan seni budaya. Ini melibatkan berbagai pelaku seni lokal dan komunitas yang selama ini aktif berkegiatan di kawasan Telaga Menjer,” ungkap Fathonah. Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi daya tarik tambahan. Terutama bagi wisatawan keluarga yang mencari alternatif wisata alam yang dipadukan dengan hiburan budaya. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, Disparbud memutuskan untuk mengganti konsep hiburan malam pergantian tahun. Jika biasanya pemerintah mengundang artis atau menggelar konser musik, tahun ini agenda tersebut diubah menjadi pentas religi. “Pertimbangannya situasi nasional yang sedang kita jaga bersama. Kami ingin memastikan kegiatan akhir tahun tetap aman, kondusif, dan sesuai dengan dinamika sosial masyarakat,” terangnya.
Menurutnya, pentas religi dipilih karena dinilai lebih menenangkan dan bisa menjadi ruang refleksi bagi masyarakat. Selain itu, format tersebut dapat mengurangi potensi kerumunan berlebihan yang sering terjadi pada konser musik malam tahun baru. Menjelang libur panjang, Disparbud juga memperketat koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk kepolisian, BPBD, Satpol PP, dan kelompok pengelola destinasi. Langkah ini penting untuk mengantisipasi berbagai potensi gangguan, mulai dari kemacetan hingga cuaca ekstrem. “Koordinasi dengan BPBD sangat penting mengingat potensi longsor di beberapa jalur menuju Dieng. Kami juga berkoordinasi dengan kepolisian untuk pengamanan arus wisatawan,” jelasnya.






